Rabu, 04 Maret 2015
The Tapis Alliance by Andhika Lukas
Andhika Lukas is the winner of Indonesia Fashion Design Competition 2015 held by IFW2015 and Dulux paint. Ia mengangkat tema yang cukup kuat, yaitu tapis lampung ke dalam karya - karyanya kali ini. Dengan banyak menggunakan warna putih sebagai dasar desain, ia mengaplikasikan detail tapis didalamnya. Tidak heran jika kemudian karyanya mencuri perhatian para juri kompetisi desain kali ini, salah satunya adalah Ketua Umum IFW 2015, Taruna K Kusmayadi. Dari 300 orang pendaftar, dipilih 30 karya untuk dinilai oleh para juri dan kemudian dikecilkan menjadi berjumlah 10 orang pada babak final. Pria kelahiran Jakarta, 20 Agustus 1994 ini berhasil menyingkirkan 9 finalis lainnya dan berhasil mendapatkan beberapa hadiah yang sangat menarik. Diantaranya adalah ia mendapatkan beasiswa di sekolah mode KOEFIA Rome, Italy dan berhak memamerkan koleksinya dalam ajang Hongkong Fashion Week 2015.
Sungguh ide yang cemerlang untuk mengangkat budaya tradisional menjadi karya yang mengikuti selera jaman. Disaat para pemuda kebanyakan berkiblat pada mode dunia luar, Lukas justru mengangkat budaya lokal. Berkat keberanian dan keahlian siswa sewing course sekolah mode Poppy Dharsono ini, ia berhasil membawa pulang gelar juara.
Hasil karyanya memiliki detail yang sangat menarik. Clean Cutting nya pun futuristik dan tidak meninggalkan kesan berat atau kaku seperti pada budaya tadisional biasanya. Mulai dari cape, skirt, hingga dress dibuat dengan ornamen Tapis Lampung yang sangat menakjubkan. Mengubah kain tradisional menjadi sesuatu yang modern dan ready-to-wear bukanlah hal yang mudah. Perlu teknis tersendiri ataupun research yang kuat akan selera pasar mode internasional.
Lukas sendiri mengatakan bahwa dirinya terinpsirasi akan ketegasan dari tiap motif yang ada pada tapis Lampung yang memiliki details garis tegas, yang kemudian menginspirasinya untuk menampilkan ritme garis yang menimbulkan kesan artistik. Dengan melakukan decoding antara kain tapis dan kemudian menciptakan siluet gedung pencakar langit sebagai pengaplikasian segi modernnya. Lukas juga mengatakan "Dengan proses decoding tersebut kemudian terciptalah aplikasi motif busana kontemporer yang futuristik dan terdapat kesan elegan dari tapis Lampung di dalamnya".
Jika sebelumnya desainer Priyo Oktaviano juga pernah mengangkat tapis Lampung dalam koleksinya yang bertajuk "HERO", kini Lukas kembali menghadirkan kekuatan dan detail tapis Lampung yang berbeda. Ia menonjolkan bahan melalui proses digital printing dan juga treatment embroidery atau bordir. Siluet - siluet yang ditampilkannya pun menonjolkan sisi clean-cutting dalam koleksi "The Tapis Alliance" ini. Untuk mengerjakan 8 sketsa yang terpilih oleh tim juri, Lukas yang merupakan mahasiswa jurusan DKV Universitas Bina Nusantara ini hanya membutuhkan waktu selama 2 minggu. Sungguh luar biasa.
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar