Jumat, 20 Mei 2011

Dunia Andrea tidak menjadi gelap.


Siang pertama di bulan May begitu memancarkan cuaca yang cukup panas di kota Bandung. Andrea, yang menjalankan tahun pertamanya sebagai mahasiswi pun tengah menyelesaikan pekerjaan - pekerjaan-nya satu persatu. Terik matahari cukup memberikan efek pengap di dalam kamar sewaan berukuran cukup besar itu.

Setelah semua selesai, ia bergegas beranjak ke kampus. Ya, Andrea cukup aktif sebagai mahasiswi. Ia memiliki bakat dan wawasan yang cukup baik untuk wanita seusia dia.

Awalnya siang itu biasa saja. Sama seperti siang - siang sebelumnya di bulan April, Maret, Februari, dan bahkan Januari. Namun kali ini berbeda ketika Andrea sedang berjalan menelusuri jalan setapak menuju kampus-nya.

Saat baru mencapai setengah jalan Andrea terjatuh, tak sadarkan diri. Yang dirasakan oleh diri-nya hanyalah gelap dan lemas disekujur tubuh-nya.

Andrea sadarkan diri ketika adzan ashar berkumandang. Andrea mendapati diri-nya telah berada di kamar sebuah klinik tanpa seorangpun disekitar-nya. Ia masih merasakan pusing yang cukup hebat. Pandangan-nya kabur, seolah - olah dunia sedang berputar. Tak lama setelah itu, Andrea kembali tak sadarkan diri. Dalam waktu yang cukup lama.

Saat terbangun dari pingsan-nya yang kedua kali, Andrea melihat sesosok laki - laki paruh baya berada disamping-nya. Ternyata tidak hanya sosok laki - laki paruh baya tersebut yang Andrea lihat, tapi ada seorang laki - laki muda berdiri di ujung ruangan. Usia laki - laki tersebut tidak berbeda jauh dari Usia Andrea. Hanya berlampau 3 tahun dari usia Andrea.

Tidak lama kemudian, seorang wanita masuk ke dalam kamar dan langsung menghampiri Andrea. Setelah berusaha berkali - kali memicingkan mata untuk memperjelas penglihatan-nya, akhir-nya Andrea tahu bahwa wanita tersebut adalah tante Anna, ibu dari Dimas. setelah melihat tante Anna, Andrea cukup terkejut dan berusaha mencari - cari keberadaan Dimas.

Namun, Andrea tidak menemukan Dimas di kamar tersebut. Andrea hanya terdiam. Dimas adalah kekasih Andrea, dan telah bersama selama 3 tahun lebih. Andrea melihat tante Anna menangis. Begitupun dengan lelaki paruh baya di samping Andrea. Lelaki muda yang berdiri diujung ruangan adalah Benny, kakak dari Dimas.

Andrea pun bertanya kepada tante Anna, mengapa ia menangis. Tante Anna hanya terdiam. begitupun lelaki setengah baya tersebut. Ia hanya duduk dan meneteskan air mata. Bagaimana dengan Benny? ia hanya diam tertunduk diujung ruangan.

Selang tak seberapa lama, datang kedua Orang tua Andrea. Kedua-nya datang dengan air mata yang becucuran. Tante Anna memeluk ibu Andrea. Kebingungan Andrea semakin menjadi hingga akhir-nya ia menjerit dan meminta penjelasan kepada semua-nya.

Tante Anna menghela nafas panjang, dan akhir-nya mulai berbicara. Ibu Andrea tidak memiliki keberanian yang cukup untuk berbicara sehingga tante Anna yang akhir-nya menjelaskan kepada Andrea.

Siang disaat Andrea terjatuh, tanggal 1 May, begitu mendengar kabar tersebut Dimas langsung meninggalkan kuliah dan kampus-nya di daerah Jakarta untuk segera melihat keadaan Andrea. Hubungan mereka memang sudah sangat dekat, bahkan dengan hubungan kedua keluarga-nya.

Dimas memacu kendaraan-nya dengan sangat cepat. Bahkan tanpa memikirkan keselamatan diri-nya dan para pengguna jalan lain-nya. Tanpa konsentrasi yang baik dan pikiran yang terbang melayang ke keadaan Andrea, Dimas benar - benar menyetir diluar kendali. Dan ya, kecelakaan tak dapat dihindarkan.

Dimas dilarikan ke rumah sakit terdekat dari tempat kejadian. Kondisi Dimas sangat kritis dan kehabisan banyak darah. Namun sore itu keadaan Dimas sempat membaik. Saat itu, Dimas menuliskan sesuatu disecarik kertas, dan disimpan di dalam dompet-nya, tepat dibelakang foto Andrea dan diri-nya.

Malam hari-nya, Tuhan berkata lain. Dimas tidak bisa diselamatkan karna kehilangan darah yang cukup banyak. Dimas pergi untuk selama - lama-nya.

Mendengar cerita tersebut, Andrea terdiam seribu bahasa. Ia hanya terdiam dan tertunduk. Lalu tante Anna kembali bercerita bahwa penyakit diabetes turunan yang dialami Andrea sudah cukup parah.

Tante Anna memberitahukan bahwa sebelum Dimas meninggal, Dimas sempat meninggalkan amanat dan pesan untuk Andrea. Lalu tante Anna menyerahkan surat yang ditinggalkan oleh Dimas.

"Dear Andrea, aku teramat menyayangi kamu. Aku sangat merasa bersalah karena tidak bisa menemani-mu disaat kamu lemah tak berdaya. Aku merasa bersalah tidak bisa menjagamu. Namun ada satu hal yang aku ketahui, dan kamu tidak. Tentang seberapa parah penyakit diabetes yang kamu alami. Mama memberitahukan aku bahwa penyakit itu sudah menyerang saraf matamu. Ketika kamu membaca surat ini, mungkin aku sedang tidur tergeletak di tempat yang seharus-nya dimana manusia kembali kepada tuhan. Dan ketika kamu membaca surat ini, itu berarti doa dan kemauan ku berhasil. Pergunakan mataku dengan baik. Sebentar lagi gelar Sarjana akan kamu raih. Andrea, aku teramat menyayangimu hingga sudah merencanakan hal ini sejak lama. Andrea, Dunia mu sudah kembali terang. Tidak menjadi gelap untuk selama-nya. Begitupun dengan aku. Aku bisa melihat terang-nya sinar matamu dari tempat dimana seharus-nya aku berada. Andrea, kamu cahayaku. Love, Dimas"

Andrea terdiam. Tidak terasa air mata terus turun dari mata-nya. Andrea menoleh ke kanan, mata-nya mencari - cari tanggal berapa hari itu. Tangis Andrea semakin pecah ketika melihat bahwa hari itu adalah tanggal 6 May. Tanggal dimana tepat usia kedekatan-nya dengan Dimas menjadi 3 tahun 1 bulan.

Andrea terus menerus menangis dan menangis. di dalam ruangan hanya terdengar suara tangisan yang sangat besar, dan teriakan - teriakan Andrea yang sangat dalam.

Dimas telah pergi dan memberikan mata-nya untuk Andrea. Dunia Andrea menjadi terang, namun hatinya? Gelap. Teramat sangat gelap menerima semua kenyataan itu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar