Sore itu, langit Jakarta masih sangat terang. Kelas photografi telah selesai dan para mahasiswa mulai bersuara gaduh untuk segera keluar dari ruangan yang menurut mereka tidak menyenangkan itu. Begitu pula dengan Raka. Raka langsung mengambil ancang - ancang untuk segera meninggalkan kampus.
Namun kali ini sedikit berbeda. Lika, teman Raka berusaha menahan kepergian Raka. Lika mengajak untuk berkumpul sebentar bersama teman - teman kelas-nya sebelum pulang. Tentu Lika mengajak Raka karena memang Raka hampir tidak pernah berkumpul bersama mereka.
Ya, Raka menolak ajakan Lika. Namun Lika tetap berusaha merayu-nya agar ikut berkumpul. Raka sedikit marah atas perlakuan Lika hingga dengan tidak sadar Raka sedikit membentak Lika. Lalu Lika terdiam dan membiarkan Raka pergi.
Semenjak kejadian itu pun Raka semakin menjadi bahan omongan teman - teman-nya di kampus. Ada yang mencemooh-nya, tapi ada juga yang membela-nya dan berusaha untuk ber positive thinking.
Sebulan telah berlalu, dan Raka tetap seperti itu. Ia selalu bergegas pulang setelah kuliah Usai. Untuk urusan akademik, Raka bukanlah mahasiswa yang memiliki IP besar. Namun bukan pula mahasiswa yang memiliki prestasi sangat minim. Raka adalah mahasiswa yang memiliki kemampuan akademik diatas rata - rata dan bisa dibilang cukup membanggakan.
Hingga akhir-nya akhir semester 4 pun tiba. Raka tetap berperilaku sama. Di dalam kampus pun ia lebih banyak diam. Pada akhir-nya saat kelas public speaking berlangsung, Raka menerima telfon di Handphone-nya dan izin kepada dosen untuk keluar kelas sebentar. Lika yang duduk 2 baris dibelakang Raka berusaha mencari - cari sosok Raka dibalik pintu kelas. Lika berusaha mendengar isi pembicaraan Raka namun anak - anak di kelas terlalu gaduh dan menutupi suara Raka.
Saat kembali ke kelas, Raka bercucuran air mata. Anak - anak satu kelas bingung melihat Raka. Kemudian Raka menghampiri Bapak Dosen dan mengatakan sesuatu dengan berbisik. Wajah Raka tidak terlihat karena membelakangi mahasiswa yang lain. Lika berusaha memahami ekspresi mimik wajah bapak dosen untuk mengetahui apa maksud yang disampaikan oleh Raka. Lika mendapati bahwa wajah si dosen berubah menjadi kaget dan memasang muka iba. Lika menjadi teramat sangat penasaran.
Lalu bapak dosen mengizinkan Raka keluar dan menepuk pundak-nya sebelum Raka pergi seraya mengucapkan beberapa kata. Mahasiswa dikelas pun mulai ribut sambil berbisik bisik mencoba menerka kejadian apa yang terjadi pada Raka. Kemudian bapak Dosen mengutus beberapa anak untuk menemani Raka ke rumah-nya. Lika pun ikut serta bersama 3 mahasiswa yang lain.
Selama perjalanan, Lika tidak berani menanyakan hal apa yang terjadi pada Raka karena Raka hanya diam dan meneteskan air mata terus menerus. Perjalanan itu pun terasa sangat panjang.
Saat sampai dirumah Raka, keadaan sudah mulai ramai dengan orang - orang. Lalu Raka segera berlari kedalam rumah ketika turun dari mobil. Hal itu pun diikuti oleh teman - teman kampus-nya, termasuk Lika.
Di dalam rumah, suasana menjadi sangat canggung bagi Lika. Lika terkejut mendapati Ibunda Raka telah tiada. Bagaimana dengan Raka? Raka duduk memeluk jasad sang ibunda sambil menangis terus menerus. Orang - orang disekitar Raka berusaha menenangkan-nya namun hal tersebut tidak dihiraukan oleh Raka.
Sambil menangis terisak - isak Raka berkata kepada mendiang sang Ibu :
"Ibu, jangan tinggalin Raka. Jangan tinggalin Raka, Ibu. Ibu jangan pergi secepat ini, bu."
"Raka mohon ibu jangan pergi dulu,bu."
"Ibu, baju siapa lagi yg harus Raka cuci sepulang kuliah bu? bagian mana lagi yang harus Raka bersihin bu? dapur? ruang tamu? Siapa lagi yang minta tolong sama Raka buat
dibikinin Teh panas bu?"
"Jangan tinggalin Raka, Bu."
"Siapa lagi yang ngingetin Raka untuk kunci semua jendela malam - malam, bu?"
"Raka harus pamit sama siapa kalo mau kuliah,bu? Raka harus ngapain lagi sepulang kuliah,bu?"
"Raka masih mau kok ,bu, anterin cucian ke tetangga - tetangga, bu."
"Ya Allah Raka sayang sama Ibu, jangan pisahin Raka sama Ibu secepat ini ya Allah"
Raka, mahasiswa yang biasa-nya diam seribu bahasa, kini berubah menjadi mahasiswa yang tidak bisa berhenti berbicara dan memohon. Lika tak sadar air mata mengalir deras di pipi-nya. Jadi selama ini, Raka selalu pulang cepat karena membantu ibu-nya yang sakit mencuci baju - baju kepunyaan tetangga-nya yang dititipkan dirumah Raka.
Raka, mahasiswa yang dianggap aneh dan memiliki dunia sendiri oleh teman- teman-nya, ternyata adalah manusia yang berjiwa sangat besar dan arif. Raka, mahasiswa yang jiwa-nya patut dicontoh.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar