"kang Ray... Kang Ray... bangun... banguuuun..." sentak Radot, junior PSM Unpad membangunkan saya yang sedang tertidur di bus. Ketika itu waktu menunjukkan sekitar pukul 7 pagi waktu setempat.
"tuh liat tuh, menara Eiffel!" lanjut Radot.
Dan ternyata, saya sudah tiba di salah satu kota yang menjadi tujuan utama di Eropa. Sambil mengusap - usap mata dan masih setengah sadar, saya melihat menara Eiffel dari balik jendela bus si kejauhan.
Setelah cukup tersadar, saya bersama dengan anggota tim mulai memperhatikan keadaan sekeliling kami. Ya, kami memperhatikan kota Paris dari dalam bus. Seketika itu juga saya mulai ilfeel dengan kota yang katanya romantis itu. Kota Paris yang saya bayangkan memiliki keindahan di tiap sudut kotanya, ternyata tidak sesuai dengan pemikiran saya.
Saya menemukan banyak rumah bedeng (rumah semi-permanent yang terbuat dari papan teriplek, kardus dan kain bekas spanduk) dibanyak tempat. Para imigran gelap dan tunawisma pun berkeliaran di sana - sini. Sampai akhirnya Teh Anis mengatakan, "tunggu sampe lo liat pusat kotanya" dengan menggantung.
Agenda awal adalah kami checkin di hotel ibis yang berada di pinggiran kota Paris, Pantin. Dan ternyata, tepat di depan hotel terdapat kolam renang "Pischine" yang terkenal di film Life of Pi. Setelah mengurus check in, ternyata kami baru bisa menempati kamar sekitar 3 jam kemudian. Akhirnya saya dan Kang Arvin memutuskan untuk berkunjung ke Musée du Louvre dan gereja Notredame terlebih dahulu sebelum checkin. Ketika berada di dalam metro, suasana kotor juga semakin terasa. Ada sampah berceceran, banyak coretan vandalisme dan bau!
Setelah puas menikmati Louvre dan menginjakkan kaki di titik nol kota Paris di Notredame, kami pun kembali ke hotel untuk pembagian kamar dan siap - siap untuk berkunjung ke KBRI Paris guna memenuhi undangan pihak KBRI. Kali ini saya mendapatkan kamar berdua dengan Faris dan kami pun langsung membagikan kode kunci kamar agar tidak repot saling tunggu. Setelah bersiap, kami berkumpul di lobby hotel dan berangkat bersama menggunakan metro untuk turun di Trocadero dan kemudian melakukan foto tim terlebih dahulu di Tour-de-Eiffel karena KBRI terletak hanya beberapa blok dari menara Eiffel. Sayangnya, karena ada beberapa barang tim yang tercecer di lorong hotel, saya beserta Teh Sari dan Hannes harus membereskan barang - barang tersebut terlebih dahulu hingga kami tertinggal tidak mengikuti foto tim. Sigh.
Setelah itu kami melakukan ramah tamah dengan pihak KBRI dan juga berkunjung ke rumah bapak Arifi yang merupakan staff KBRI yang juga memiliki hubungan baik dengan PSM Unpad. Di Apartment pak Arifi kami disuguhi berbagai makanan Indonesia! Ada opor ayam, krecek beserta ketupat, dan juga bakwan malang plus sambal! Bahagianya!
Ketika selesai, kami semua mendapatkan free time. Saya dan teh Anis bersama dengan teman teh Anis, ka himpsky memutuskan untuk selalu bersama selama free time. Tujuan awal tentu saja menara Eiffel karena saya belum sempat berfoto disana. Setelah berfoto dan mengelilingi taman - taman disekitar menara Eiffel, langit kota Paris juga sudah mulai gelap dan kami pun memutuskan untuk pergi ke Champ Ellysées untuk berbelanja, menikmati suasana malam kota Paris dan juga foto - foto di Arc de Triomphe. Selama berkeliling di Paris, saya hanya menggunakan setelan busana summer, tapi ternyata Paris memang terkenal dengan angin jahatnya! Meskipun summer, saya tetap saja menggigil kedinginan akibat cuacanya yang labil. Jadi jika anda berniat mengunjungi Paris, lebih baik menyiapkan jaket atau sweater!
Sudah puas berbelanja untuk pribadi dan titipan di Champ Ellysées, kami memutuskan untuk makan tuna sandwhich di salah satu café disana. Setelah saya perhatikan, Champ Ellysés mirip dengan Orchard Rd di Singapore, banyak toko - toko dari brand dunia.
Kemudian kami memutuskan untuk kembali ke Trocadero untuk menyaksikan atraksi lampu yang tiap malam ditampilkan di menara Eiffel. Ketika dirasa cukup larut, kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel karena pukul 7 pagi kami harus checkout dan meninggalkan kota Paris dan benua biru tersebut. Sudah hampir 1 bulan kami berada di Eropa dan rasa kangen rumah pun makin menjadi - jadi.
Setelah menginjakkan kaki di titik nol kota Paris dan beberapa anggota tim sudah membuktikkan bahwa mereka dapat kembali ke kota Paris, saya hanya berharap suatu hari dapat kembali ke Paris sebagai Editor in Chief suatu majalah terkenal, on duty travel. Amin!
Au Revoir, Paris!
Au Revoir, Europe!
See you when i see you :)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar